Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Jumat, 26 April 2013

45. DASAR BAGI ORANG YANG HENDAK MENGHADAP KEPADA ALLAH ADALAH DENGAN BERDZIKIR



Laatatrukadz-dzikra li’adami hudhuurika ma’allaahi fiihi li-anna ghaflataka ‘an wujuudi dzikrihi asyaddu min ghaflatika . fii wujuudi dzikrihi fa’asaa an yarfa’aka min dzikrin ma’a wujuudi ghaflatin ilaa dzikrin ma’a wujuudi hudhuurin ma’a wujuudi hudhuurin ilaa dzikrin ma’a wujuudi ghaibatin ‘ammaasiwaalmadzkuuri wamaadzaalika ‘alaallaahi bi’aziizi.
Artinya : Janganlah engkau tinggalkan dzikir disebabkan karena hatimu tidak hadir bersama-sama Allah di dalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir itu sangat berbahaya, daripada kelalaianmu kpada Allah masih adanya dzikir kepada-Nya. Smoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai dengan kesadaran (ingat kepada Allah), dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju kepada dzikir yang disertai kesadaran hati kepada-Nya menuju kepada dzikir yang disertai adanya keghoiban dari selain yang telah tersebut. Dan demikian itu tidaklah sukar bagi Allah”.

Dzikir (ingat) kepada Allah adalah merupakan jalan terdekat untuk menuju kepada Allah. Karena dngan dzikir atau ingat kepada Allah itu kita akan selalu berhati-hati dalam melangkah dan berbuat. Selain itu, kita juga akan selalu memperhatikan, apakah langkah dan perbuatan kita tersebut sesuai dengan garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah.
Dengan demikian, kalau kita mau menjaga diri agar tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah dan selalu memperhatikan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya, maka Allah pun akan menjaga diri kita dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Hal ini sesuai dengan firman-Nya yang tersebut dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 152, yang artinya :
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat_Ku”.

Juga dalam Surat Al-Ahzaab, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berdzikir (menyebut nama Allah) dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.
Selain itu, sehubungan hal ini Allah juga berfirman dalam Hadits Qudsi, yang artinya :
“Aku (Allah) selalu mnuruti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku menyertainya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku di dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya di dalam Dzat-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku di tempat ramai, Aku pun mengingatnya ditempat ramai yang lebih baik daripadanya. Jika mendekati kepada-Ku sejengkal, Aku pun akan mendekat kepadanya Shasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku pun mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia dating kepada-Ku dengan berjalan. Aku pun akan dating kepadanya dengan berlari cepat”.

Dengan mengingat kepada Allah, maka secara otomatis hati kita pun akan menjadi ingat bahwa suatu saat kita akan menghadap kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita. Dalam hal mengingat mati ini Rasulullah saw, pernah bersabda, yang artinya :
“Orang cerdik ialah yang terbanyak ingatnya terhadap kematian, terbaik persiapannya untuk menghadapi (kematian) itu. Merekalah orang-orang yang pergi meninggalkan dunia dengan membawa kemuliaan dunia serta mendapat kenikmatan di akhirat”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar