Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Rabu, 24 April 2013

91. KEMAKSIATAN YANG MENGAKIBATKAN SESEORANG MERENDAHKAN DIRI ADALAH BLEBIH BAIK DARI PADA KETAATAN YANG MENGKIBATKAN SESEORANG MENYOMBONGKAN DIRI



Ma’shiyatun auritsat dzulaan waftiqaaran khairun min thaa’atin auratsat ‘izzan wastikbaaran.

Artinya : Kemaksiatan yang mewariskan (mengakibatkan) kerendahan diri dan pengharapan (akan rahmat allah) itu lebih baik dari pada ketaatan yang mengakibatkan perasaan mulia dan kesombongan”.

Segala sesuatu itu hendaklah dilihat akibatnya. Meskipun telah melakukan kemaksiatan tetapi kemudian merendahkan diri dan mengharap rahmat Allah dari sebab kemaksiatannya itu, hal ini adalah lebih baik daripada melakukan ketaatan kemudian timbul perasaan sombong atau merasa dirinya paling mulia karena telah melakukan ketaatan tersebut.
Namun demikian kita tidak harus melakukan kemaksiatan terlebih dahulu agar bias merendahkan diri dan mengharap rahmat-Nya. Adalah akan lebih baik lagi kalau melakukan ketaatan terlebih dahulu, baru kemudian merendahkan diri dan mengharap rahmat-Nya.
Sehubungan dengan hal ini tersebutlah kisah dari As-Sy’abi yang bersumber dari Khalil bin Ayyub, bahwasanya ada seorang laki-laki dalam masa Bani Israel yang karena seringnya berbuat maksiat, ia digelari orang-orang dengan sebutan (Kholi’). Pada suatu ketika lewatlah dihadapan kholi tadi seorang laki-laki ahli ibadah (Abid) yang diatas kepalanya terdapat awan yang menaunginya. Maka didalam hatinya si Kholi berkata :”Aku Kholi’ sedang dia Abid, Aku akan duduk bersamanya. Mudah-mudahan dengan ini Allah akan berkenan memberikan rahmat-Nya kepadaku”. Ketika si Abid mengetahui kalau si Khli’ duduk bersamanya, ia berkata dalam hatinya : “Aku seorang Abid sedang dia seorang Kholi’. Maka aku harus menjauhkannya dariku”. Lalu si Abid itu pun mengusir si Kholi’ untuk pergi. Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi di zaman itu untuk memerintahkan kepada dua orang tersebut, bahwa semua kemaksiatan si Kholi’ telah diampuni dosanya. Sedang amal kebajikan si Abid dihapuskan. (dan ada pula yang menyebutkan, bahwa awan yang menaungi si Abid tadi berpindah atau berganti menaungi si Kholi’).
Demikianlah kisah di atas, mudah-mudahan kita bias mengambil manfa’at atau pelajaran dari padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar