Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Selasa, 23 April 2013

132. HIJAB ALLAH ITU BERUPA NUR (CAHAYA)



132. HIJAB ALLAH ITU BERUPA NUR (CAHAYA)

Laulaazhuhuuruhu fiilmukawwanaati maawaqa’a ‘alaihaa wujuudu abshaarin lauzhaharat shifatuhu idhmahalat mukawwanaatuhu.

Artinya : andaikan Allah tidak hadir (nyata) pada benda-benda ala mini, niscaya tidak akan terjadi penglihatan padanya. Dan andaikan allah menghadirkan sifat-sifat-Nya, pasti lenyaplah alam bendanya”.

Hal ini sebagaimana yang dialami Nabi Musa ketika mohon kepada Allah agar menampakkan dirinya dihadapannya. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melihat gunung yang berada didepannya. Tetapi tatkala Allah baru menampakkan cahaya-Nya, gunung yang kokoh itu hancur berantakan dan Musa pun tersungkur pingsan.
Perlu diketahui, bahwa sifat-sifat Allah itu ada yang salbiyah (meniadakan diri dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan kesempurnaan Dzat-Nya). Tsubutiya (sebagai ketetapan kepada Allah). Dzat dan Af’al (tentang keberadaan dan perbuatan-perbuatan Allah).
A.                 SIFAT-SIFAT SALBIYAH
Yang termasuk ke dalam sifat-sifat salbiyah antara lain :
1.                   Maha Awal dan Maha Akhir.
Yakni adanya Allah itu mendahului segala sesuatu ada dan tidak didahului oleh ketiadaan sebelumnya (tidak ada permulaan), sekaligus tida ada penghabisan bagi wujud-Nya (kekal selama-lamanya).
Perhatikan firman Allah dalam Al-qur’an Surat Al-Hadiyat ayat 13, yang artinya :
Dia (Allah) adalah Maha Pertama, Maha Terakhir, Maha Terang, dan Maha Tersembunyi dan dialah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Yang dimaksud dengan Maha Terang adalah, bahwa dengan coptaan-ciptaan-Nya menjadikan bukti yang terang akan adanya Dzat Yang menciptakan (Allah). Sedang maksud dari Maha Tersembunyi adalah, bahwa Allah adalah Dzat Yang Tidah dapat dicapai oleh panca indra dan tidak dapat diliputi oleh akal pikiran manusia yang serba terbatas ini.
2.                   Tidak serupa dengan sesuatu apapun.
Yakni allah tidak menyamai segala apa yang diciptakan-Nya, juga tidak ada sesuatupun yang dapaty menyamai-Nya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat As-Syuuro ayat 11, yang artinya :
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Walaupun diantara makhluq-Nya banyak yang memapu melihat, mendengar, berilmu, berkuasa, bijaksana, dan sebagainya, namun kemampuan makhluq-makhluq tersebut sangat terbatas dan sangat jauh kesempurnaan sebagaimana yang dimiliki Allah. Karena itu, sangat mustahil apabila ada makhluq yang dapat menyerupai sifat-sifat Allah.
Perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 255, yang artinya :
Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluq-Nya), tidak bergantung dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinnya?. Allah Mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.
3.                   Maha Esa.
Yang dimaksud Esa di sini adalah esa dalam Dzat-Nya,
Sifat-sifat-Nya, serta Af’alnya.
Esa dalam dzat-Nya, berarti bahwa Dzat Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian yang terpotong-potong. Selain itu juga ada sekutu bagi-Nya dalam hal melakukan apa saja.
Esa dalam sifat-sifat-Nya, berarti bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai sifat-sifat Allah Yang segalanya Maha sempurna.
Sedang Esa dalam Af’al-Nya, berarti bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat melakukan atau berbuat sebagai mana yang Allah perbuat.
Lebih lanjut Allah sendiri telah menerangkan sifat-sifat atau keadaan-nya, sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas ayat 1-4, yang artinya :
Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak doiperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya”.
Adalah hal yang mustahil, bahwa mempunyai sekutu-sekutu atau mempunyai saingan (Tuhan lain). Sebab sekiranya di langit dan di bumi ini ada tuhan lain yang selain Allah, maka pastilah keduanya akan rusak binasa, karena masing-masing tuhan akan saling berebut kekuasaan untuk mengatur ala mini.
Hal ini sebagaimana tersebut dalam Al-qur’an Surat Al-Anbiya’ ayat 22, yang artinya :
Andai keduanya (langit dan bumi) itu ada tuhan lagi selain Allah, pasti keduanya akan binasa”.
Juga dalam Surat Al-Mukminun ayat 91, artinya :
Allah tidak mengambil (mempunyai) anak dan tiada pula tuhan yang lain disang-Nya. (andaikan tuhan itu ada yang lain selain Allah), maka tentulah setiap tuhan itu akan membawa makhluq yang diciptakannya sendiri dan sebagian hendak mengalahkan yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sebutkan”.
b.                SIFAT-SIFAT TSUBUTIYAH
Yang termasuk ke dalam sifat-sifat tsubutiyah antara lain :
1.                   kuasa (qudrat)
maksudnya adalah, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
Perhatikan firman Allah dalam Al-qur’an Surat ayat 80, yang artinya :
Dia Adalah yang menghidupkan serta mematikan dan di bawah kekuasann-Nya pula adanya pertukaran malam dan siang. Apakah kamu semua tidak menggunakan akalmu?”

Juga dalam Suarat An-Nur ayat 45, yang artinya :
Dan Allah telah menciptakan segala jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan diatas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan-jalan dengan empat kaki.
Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
2.                   Berkehendak (irodah).
Maksudnya adalah, bahwa dia (Allah) menentukan segala sesuatu menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dan kalau Allah sudah berkehendak, maka tidak ada sesuatupun yang bias menghalangi atau merubahnya,
Perhatikan firman Allah dalan Al-qur’an surat An-Nahl ayat 40, yang artinya :
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu jika Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya :”Kun” (jadilah)” maka jadilah ia”.

Demikian mudahnya Allah dalam mewujudkan kehendak-Nya. Karena itu adalah sudah menjadi kehendak-Nya, yang artinya manusia sama sekali tidak kuasa untuk merubah atau menolaknya, kecuali hanya bias berusaha atau ikhtiar. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qoshos ayat 68, yang artinya :
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memiliki-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persukutukan (dengan Dia)”.

Juga dalam Al-Qur’an Surat Asy-syuuro ayat 49-50, yang artinya :
Kepunyaan Allah-lah langit dan bumi. Dai menciptakan apa yang dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki. Atau dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan 9kepada siapa  yang dikehendaki-Nya). Dan dia menjadikan mandul pada siapa yang dia kehendaki sesungguhnya dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”.
3. Mengetahu (Ilmu)
Maksudnya adalah, bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang lahir maupun yang batin, yang terang maupun yang ghaib, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Dan segala apa yang ada di alam raya ini seluruhnya diliputi oleh pengetahuan-Nya.

Selain itu, Allah juga tidak pernah lupa terhadap apa-apa yang telah diketahuinya. Dan pengetahuan Allah ini sama sekali tidak terbatasi oleh ruang dan waktu.
Sehubungan hal ini, Allah berfirman dalam Al-qur’an surat Al-Mujahadah ayat 7, yang artinya :
Tidaklah engkau perhatikan, bahwa Allah itu Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi?. Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan dia adalah yang ke empatnya dan tiada antara lima orang, melainkan dia bersama mereka di mana saja mereka bereda. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat tentang apa yang telah mereka lakukan. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala sesuatu”.  

Juga dalam surat Al-An’am ayat 59, yang artinya :
Di sisi Allah adalah kunci-kunci perkara yang ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya selain dia sendiri. Allah Maha mengetahui apa yang ada di darat dan di laut dan tidak sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia pasti mengetahuinya. Tidak ada sebutir biji dalam kegelapan bumi pula yang basah dan yang kering, melainkan semua tentu tertulis dalam kitab yang terang”.
1.                   Hidup (hayat)
Allah swt. Adalah Maha Hidup. Kalau tidak hidup, maka tentu tidak bias berkuasa, mendengar, mengetahui, melihat, memciptakan serta mengatur seluruh isi ala mini.
Kehidupan Allah adalah kehidupan yang sangat sempurna. Tidak diketahui oleh ketiadaan dan tidak pula diakhiri oleh kematian sebagaimana hidupnya makhluq-makhluq di dunia ini. Akan tetapi tentang bagaimana hakekat kehidupan Allah yang sebenarnya yang dapat mengetahui atau bahkan hanya memperkirakannya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an Syrat Al-Furqan ayat 58, yang artinya :
Dan bertaqwalah kepada Yang Maha hidup yang tidak akan mati”.
2.                         Berfirman (Kalam)
Allah saw. Adalah Maha Berfirman. Adapun cara berfirman adalah tidak dengan huruf atau suara. Dan hal ini sudah menjadi ketetapan Allah untuk dirinya sendiri.
Perhatikan firman Allah dalam Al-qur’an surat asy-Syuro ayat 51, yang artinya :
Dan tidak seorang pun yang diberi firman oleh Allah (Firman Allah) itu tidak ada batasnya, sebagaimana yang tersebut dalam Surat Luqman ayat 27, yang artinya :
Dan andaikata semua pohon yang ada di bumi ini dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta dengan ditambah lagi sesudah itu tujuh lautan yang lain, maka belum akan habislah kalimat-kalimat Allah yang akan dituliskan”.
3.                         Mendengar (Sama’) dan melihat (Bashar)
Allah swt. Adalah Maha mendengar dan Maha Melihat segala sesuatu, baik dalam keadaan sepi maupun ramai, gelap gulita maupun terang benderang.
Seandainya pada malam hari yang gelap gulita dan hitam pekat serta dalam keadaan hujan deras yang disertai dengan bunyi guntur yang menggelegar terdapat seekor semut kecil berwarna hitam yang berjalan diatas batu hitam, maka Allah akan dengan amat mudah mendengar dan melihat gerakan-gerakan semut tersebut dari jarak yang teramat jauh.
Adapun tentang pendengaran dan penglihatan Allah adalah sangat berbeda dengan pendengaran dan penglihatan semua makhluq-Nya yang serba terbatas dan menggunakan alat-alat, seperti daun telinga, gendang telinga, kornea mata, biji mata dan sebagainya.
Keadaan Allah yang demikian itu telah dijelaskan dalam Al-qur’an Surat Mukmin ayat 20, yang artinya :
Allah memutuskan perkara kebenaran (keadilan). Apa yang mereka seru (puji) selain dari allah itu, tidaklah dapat memutuskan perkara apapun. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
C. SIFAT-SIFAT DZAT DAN SIFAT-SIFAT AF’AL
Sifat-sifat Dzat yaitu sifat-sifat (ma’nawiyah). Yaitu sifat hidup, mendengar, melihat, berkehendak, berdiri sendiri dan sebagainya.
Sedangkan sifat-sifat (af’al) yaitu sifat-sifat yang berhubungan dengan segala yang diperbuat Allah, seperti menciptakan alam dan seluruh isinya ini, memberi rizqi kepada semua makhluq-Nya, dan sebagainya.
Dzat. Dan kedudukan sifat-sifat itu hanya sebagai tambahan dari sifat Dzat. Namun dikalangan ulama sendiri masih terdapat perselisihan paham tentang kedudukan Dzat. Adapun yang menjadi pangkal perselisihan adalah :
- Apakah Allah itu melihat dengan (Dzat), mendengar dengan (Dzat), berfirman dengan (Dzat) dan seterusnya?
- Atau apakah Allah itu melihat dengan penglihatan, mendengar dengan pendengaran, hidup dengan kehidupan dan seterusnya?
Lalu bagaimana pendapat kita sendiri mengenai kedua tanda di atas? Sebagaimana orang mukmin, kita hendaknya menjauhkan diri dengan memikirkan persolan-persoalan semacam itu. Karena bagaimana pun dan dengan apapun juga pemikiran kita yang sangat terbatas ini tak akan mampu memecahkan rahasia Allah.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-qur’an surat Thooha ayat 110, yang artinya :
Allah Maha Mengetahui apa yang ada dihadapan dan dibelakang mereka. Mereka (manusia-manusia) itu tidak dapat meliputi (mengetahui) Tuhan dengan pengetahuannya”.

Juga dalam sebuah Hadits Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Berfikirlah mengenai makhluq allah dan jangan berfikir mengenai Allah (Dzat-Nya), sebab semua tentu tak dapat mencapai kadar pikirannya”.

Dengan demikian, yang diperintahkan kepada kita hanyalah sebatas meyakini aka maujudnya (adanya) Allah yang memiliki nama-nama yang baik (Asmaul Husna), mempunyai sifat-sifat yang luhur dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam hal apa saja secara mutlak.
133. SEGALA SESUATU BISA MAUJUD KARENA ADANYA ALLAH

Azhara kullu syai-in liannahulbaathinu wathawaa wujuuda kulli syai-in liannahu zhaahirun.

Artinya : Allah mendhahirkan segala sesuatu, karena sesungguhnya Dia (Allah) itu bersifat bathin. Dan Dia (Allah) yang melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu”.

Diantara nama-nama Allah yang baik, terdapat nama Adh-Dhohir, Al-Bathin. Adh-Dhohir artinya : Maha Nyata, yang dengan sifat-sifat-Nya ini Allah menyatakan atau menampakkan kewujudan-Nya dengan tanda-tanda ciptaan-Nya. Sedang Al-Bathin artinya : Maha Tersembunyi, yang dengan sifat-sifat-Nya ini menyebabkan tak seorangpun atau sesuatupun yang dapat mengenal Dzat-Nya.
Dengan sifat-sifat-Nya, Allah menjadikan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya menjadi terang dan nyata, sehingga tidak ada sesuatu yang samara di sisi-Nya. Dan dengan sifat Dhohir-Nya, Allah menjadikan sesuatu yang dikehendaki-Nya menjadi samara, sedang tidak ada sesuatu yang nyata di sisi-Nya.
Jadi kesimpulan, bahwa Allah meujud di segala sesuatu yang wujud. Dan tidak ada yang meujud selain Dia, kecuali dengan jalan yang mengikuti jalan-Nya (Sunnah-Nya).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar