Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Sabtu, 20 April 2013

171. TIDAK PATUT BAGI SEORANG MURID MENCARI KEKERAMATAN



Rubamaruziqalkaraamati man lam takmul lahul-istiqaamatu

Artinya : “Kadang diberi izin kekeramatan orang yang belum sempurna istiqaamahnya”.

Seorang murid (orang yang mempunyai keinginan untuk bisa sampai kehadirat Allah), hendaklah mengendalikan dirinya dari keinginan mencari kekeramatan, karena dikhawatirkan ia akan mendapatkan kekeramatan dari selain Allah (syetan). Sebab kalau hal ini terjadi, maka justru akan menyebabkan dirinya terjatuh dari Allah.
Kekeramatan itu sebenarnya tidak perlu dicari, karena ia akan dating dengan sendirinya dari Allah. Oleh sebab itu seseorang tidak perlu berpuasa tujuh hari tujuh malam, bertapa digua-gua, hanya makan nasi putih saja (mutih), pantang melihat cahaya (berpuasa pati geni) dan sebagainya, yang kesemuanya itu tidak ada tuntunan dari Rasulullah atau hanya merupakan amalan-amalan yang menyesatkan.
Sabda Rasulullah SAW, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya :
“Dari Abu Hurairoh r,a. berkata : bersabda Rasulullah SAW,
Bersedang=sedanglah kamu dan tetaplah dalam beramal, ketahuilah kalian bahwa tak seorangpun dapat selamat hanya semata-mata bergantung pada amal perbuatannya. Sahabat bertanya : tidak juga engkau Ya Rasulullah? Beliau menjawab : Tidak pula Aku. Kecuali jika Allah meliputi Aku dengan rahmat dan karunianya”.

Berdasarkan Hadits di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa kita dianjurkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam beramal, tetapi tetap (istiqamah) dengan amal yang kita lakukan itu.
Allah telah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang teguh dalam pendiriannya (istiqamah), sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur’an Surat Fush-shilaat ayat 30, yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Yang dimaksud dengan teguh diatas adalah dalam hal bertuhan kepada Allah dalam hati sanubari, dalam tindakan hidup, dalam kesukuran ketika mendapat kenikmatan, dan dalam kesabaran ketika menerima cobaan.
Sikap (istiqamah) ini tidaklah dapat dicapai dengan mudah karena banyak sekali godaan-godaan yang berusaha menggoyahkan pendirian kita tersebut, baik yang berupa tantangan yang keras maupun bujuk rayu yang memabukkan.
Akan tetapi dengan usaha yang keras dan disertai do’a kepada Allah, bukan tidak mungkin bahwa suatu saat akan dapat mencapai predikat (istiqamah) sebagaimana yang kita harapkan.
Apabila kita sudah mencapai predikat (istiqamah), maka akan bahagia dan tntramlah hati kita. Karena sesuai dengan janji Allah. Dia akan menurunkan Malaikat-malaikat yang akan  menemani dan menghibur kita, baik tatkala didunia maupun tatkala menghadapi kehidupan di akhirat nanti.
Menurut penafsiran mujahid Assuddi dan Zaid bin Aslam, bahwa Malaikat itu akan turun pada orang yang (beristiqamah) itu menghadapi saat-saat kematiannya (naza’) untuk memberikan hiburan agar tidak merasa takut dan berduka cita menghadapi Tuhanya.
Sedangkan menurut sebuah Hadits yang diriwayatkan sahabat Al-Bukhari bin Azib, Malaikat itu dating dan mengeluhkan (roh) orang-orang yang (beristiqamah) ketika hidup didunia. Malaikat-malaikat itu dating beramai-ramai dengan wajah yang berseri-seri sambil berkata :”Keluarlah wahai (roh) yang baik dari tubuh yang baik yang selama ini engkau tempati untuk menemui Tuhanmu yang telah menunggumu dengan ramah tamah”.
Ada lagi ahli tafsir yang mengatakan, bahwa malaikat itu, yakni Munkar dan Nakir mencabut kedatangan (roh) orang (istiqamah) yang masuk kubur dengan ucapan:”Selamat dating, janganlah engkau merasa gentar dan jangan berduka cita”.
Selain itu ada pula yang berpendapat, bahwa malaikat itu akan menemani seseorang yang (istiqamah), baik ketika masih hidup di dunia mapun katika hidup di akhirat. Hal ini didasarkan pada Hadits berikut ini, yang artinya :
 “dari abi Dardak r,a,bahwa Rasulullah SAW, pernah bersabda :
Barangsiapa yang mendoakan saudaranya tanpa setahu saudaranya itu, berkatalah malaikat yang bertugas dalam bidang itu “Amiin, dan engkau pun mudah-mudahan mendapatkan karunia sebagaimana saudara yang engkau do’akan itu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar