Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Sabtu, 20 April 2013

172. CAHAYA-CAHAYA ALLAH YANG SAMPAI KEDALAM HATI



Anwaaru udina laha fiilwushuuli wa anwaru udzina laha fiiddukhuuli

Artinya : “Adacahaya Allah yang di izinkan sampai ke hati dan apapula cahaya Allah yang di izinkan masuk kedalam lubuk hati”.

Cahaya yang sampai kedalam hati seseorang itu ada (dua) macam, yaitu :
1.             Cahaya yang sampai kedalam hati tetapi hanya dibagian luarnya saja (belum meresap kedalam hati).
          Hal ini menyebabkan pandangan seseorang tidak bisa sepenuhnya tertuju kepada Allah, karena sebagian hati yang lain masih tertambat kepada kesenangan duniawi.
2.             Cahaya  yang masuk dan meresap kedalam hati.
Hal ini menyebabkan seseorang bisa dengan sepenuhnya mencintai dan     mencurahkan perhatiannya hany kepada Allah semata.

Sehubungan dengan hal ini, sebagian ahli (ma’rifat) mengatakan :
“Apabila iman itu ada bagian luar hati, maka hamba akan mencintai akhirat dan dunia, yakni sebagian mencintai Allah SWT. Dan sebagian yang lain mencintai dirinya. Dan apabila iman telah masuk kedalam lubuk hati dia akan membenci dunianya dan ditolak kehyendak hawa nafsunya”.

Menurut sunnatullaah, manusia yang hidup di dunia ini pada dasarnya sudah mengakui, bahwa segala apa yang ada di ala mini ada yang menciptakan. Hanya saja karena didalam hati itu belum terdapat sedikitpun cahaya dari Allah, maka mereka tidak mau mengakui dengan terus terang akan adanya Allah sebagai penciptanya.
Banyak  sudah alas an-alasan yang dikemukakan oleh mereka-mereka yang tersesat itu, namun sampai kini tak ada seorangpun yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Waqi’ah ayat 63-64, berikut ini, yang artinya :
“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam. Kamu yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?”. Juga dalam surat yang sama (Al-Waqi’ah) ayat 68-69, yang artinya :
“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamu yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan-Nya?”.
Tak dapat disangkal lagi, bahwa tidak akan ada seorang pun atau alat apapun yang bisa menumbuhkan tanaman-tanaman, apalagi untuk menurunkan air hujan. Manusia hanya bisa menanam, tapi siapa yang menciptakan bibitnya pertama kali kalau bukan Allah?. Dan kalau sudah ditanam, siapa yang menumbuhkannya kalau bukan atas kehendak Allah?.
Firman allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Haj ayat 18, yang artinya :
“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia?. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.

Demikian juga dengan para ilmuwan yang dengan penyelidikannya, akhirnya dapat mengambil kesimpulan, bahwa terwujudnya ala mini adalah karena ada Yang Mewujudkannya. Karena itu mau tidak mau mereka pun akhirnya tunduk kepada sunnatullaah. Sebab tanpa tunduk kepada sunnatullaah, mereka tidak akan sampai kepada puncak ilmu yang dimilikinya.
Akan tetapi patut disayangkan, karena kebanyakan manusia itu cenderung untuk menyombongkan kepandaian dan keahliannya sendiri dan mungkin demi gengsi peribadi, maka mereka (para ilmuwan) itu tidak mau secara terus terang menjelaskan kesimpulan dari hasil penyelidikannya dan juga tentang ketundukkannya kepada sunnatullaah.
Perlu diketahui, sunnatullaah itu tidak hanya berlaku pada alam saja, akan tetapi bagi manusia juga ada sunnatullaah dan hokum-Nya, yakni yang berupa Ad-Din (agama).
Karena itu sungguh mengherankan, apabila ada seseorang yang mencari Ad-Din, sunnah dan peratuan-peraturan yang bukan dari Allah. Padahal seluruh makhluq, baik yang ada di bumi mapun yang ada di langit baik merupakan benda hidup maupun benda mati, semuanya telah tunduk dan patuhb pada hukim-hukum Allah
Sehubungan dengan ini Imam Al-Ghozali pernah mengatakan :
“Tiadalah akan ada keselamatan dan kedamaian, melainkan apabila orang-orang telah islam kepada Robbul ‘Alamiin. Dan tiadalah akan seimbang timbangan kehidupan di muka bumi, melainkan apabila ditegakkan oleh kaum muslimin sendiri”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar