Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Sabtu, 20 April 2013

181.KEBIASAAN-KEBIASAAN SESEORANG BISA HILANG DISEBABKAN OLEH ADANYA WARI ILAHI



Mataa waradatilwaridaatul-ilaahiyyatu ‘alaika hadamatil’awa-ida ‘alaika annalmuluuka idzaa akhaluu qryatin afsaduuha.

Artinya : “Ketika dating warid ilahi (karunia Allah) kepadamu, maka hilanglah kebiasaan-kebiasaan yang ada padamu. Dimisalkan seperti dalam firman Allah (yang artinya) :Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, pastilah mereka akan membinasakan (negeri yang dimasukinya).
Apabila (warid Ilahi) telah masuk ke dalam hati, maka segala macam kotoran yang ada di dalam hati tersebut menjadi sirna. Dengan demikian kebiasaan-kebiasaan (buruk) yang sering dilakukannya menjkadi hilang.
Warid (karunia) Allah itu bermacam-macam. Dan yang paling besar dan tinggi nilainya adalah yang berupa (iman).
Tentang hakekat iman ini Allah menerangkannya dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 177, yang artinya :
“Sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaika, kitab-kitab suci dan para nabi-nabi”. (Dan pada sebuah hadits ada satu tambahan lagi, yakni iman kepada (Qodho) dan (Qodar)”.
Sehubungan dengan hal ini prof. mahmud Syaltut pernah mengatakan :
“Islam adalah pokok yang tumbuh di atasnya peraturan-peraturan syari’ah. Syari’ah itu ditumbuhkan oleh keimanan. Dengan demikian tidaklah terdapat syari’ah dalam islam, melainkan denganadanya keimanan, sebagaimana syari’ah itu tidak mungkin berkembang melainkan dibawah ruang keimanan. Dengan demikian syari’ah tanpa keimanan adalah laksana bangunan yang tinggi tanpa pondasi (dasar)”.

Iman yang sudah meresap ke dalam hati akan menghasilkan akhlaq yang baik.
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang mengaitkan iman dengan akhlaq yang baik. Hal ini berarti, bahwa keimanan itu erat kaitannya dengan akhlaq.
Demikian juga dengan yang terjadi pada hadits-hadits.
Diantaranya adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini, yang artinya :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan kata-kata yang baik atau bersikap diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya”.
Dalam hadits di atas ada (tiga) hal yang pokok yang menjadi perhatian utama. Ketiga hal tersebut adalah :
1. memelihara diri dari perkataan-perkataan yang tidak baik.
Perkataan adalah kunci utama dalam hubungan antar manusia, karena itu demi menjaga hubungan baik diantara sesame manusia, maka Allah memerintahkan hamba-Nya agar selalu memelihara dan menjaga diri dari perkataan-perkataan yang menyakitkan hati, mengandung dusta, fitnah, hasutan, dan sebagainya :
-          terdpat dalam surat Al-Baqaraoh ayat 83, yang artinya :
“ucapkanlah perkataan yang baik terhadap manusia”.
-                   Juga dalam Surat Al-Ahzab ayat 70, yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan-perkataan yang benar”.

Sedangkan Hadits-hadits yang membicarakan hal ini diantaranya adalah :
-                      Hadits riwayat Ahmad, yang artinya : “Tidak bisa tegak lurus iman seorang hamba sehingga lurus pula hatinya, dan hati itu tidak bisa lurus sebelum lidahnya lurus (jujur)”.
-                      Hadits riqayat Bukhary, yang artinya : “berbahagialah orang-orang yang mengamalkan ilmunya, yang memanfaatkan sebagian harta bendanya, dan yang dapat mengendalikan perkataan yang berlebih-lebihan”.

Menurut prof. ‘Athiyah Al-Abrasy, dalam kitabnya yang berjudul Ruhul Islam, ada (tiga) hal yang perlu di jauhi dalam ucapan-ucapan, karena ucapan-ucapan ini paling dimurkai Allah dan paling dibenci manusia.
Ketiga hal tersebut adalah :
-                      berdusta, menggunjing dan memfitnah.
-                      Mengucapkan perkataan-perkataan yang tiada berguna dan tidak ada artinya.
-                      Mengucapkan kata-kata dengan keras, kasar dan berada tinggi, terutama terhadap orang-orang yang lebih tua dan patut dihormati.

2. Menghormati dan berbuat baik kepada tetangga.
Menghormati dan berbuat baik kepada tetangga merupakan hal yang amat penting yang harus selalu diperhatikan dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan karena pentingnya, kewajiban ini disejajarkan dengan kewajiban berbuat baik terhadap (Ibu Bapak), sanak famili, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.
Tetangga itu mempunyai andil yang cukup besar dalam menentukan kebahagiaan hidup seseorang. Karena itu Rasulullah menganjurkan agar sebelumnya mendirikan rumah (tempat tinggal) hendaklah terlebih dahulu memilih tetangga yang lebih baik. Hal ini sebagaimana beliau, yang artinya :
“(Pilihlah) terlebih dahulu tetangga sebelum (memilih) tempat tinggal”.
Dan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW. Bersabda, yang artinya :
“Demi Allah, tidak beriman…………demi Allah, tidak beriman……….demi Allah, tidak beriman……..dinyatakan : Ya Rasulullah, siapakah sesungguhnya yang sia-sia dan menderita kerugian yang demikian itu?. Nabi menjawab : Orang yang membuat tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya. Para sahabat bertanya :apakah yang dimaksud dengan gangguan-gangguannya itu? Nabi benjawab : Kejahatan-kejahatan”.

Juga dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Al-Bazzar dan Ibnu Hibban diceritakan, bahwa ada seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan lain-lain, tetapi ia masuk kedalam neraka. Para sahabat bertanya : kenapa bisa jadi demikian Ya Rasulullah? Jawab Nabi : karena ia suka menyakiti hati tetangganya, baik dengan perbuatannya maupun dengan ucapan-ucapannya. Dan ada pula seorang wanita yang tidak begitu taat dalam mengerjakan shalat, puasa, dan sebagainya, tetapi ia masuk syurga. Menurut Rasulullah, hal ini bisa terjadi karena wanita tersebut suka berbuat baik dan menyenangkan hati tetangganya.

3. Menghormati para tamu
Menurut ajaran islam, kewajiban menerima, menghormati dan melayani selama (tiga hari) berturut-turut. Dan selebihnya merupakan shodakoh yang sangat dianjurkan.
Dan Al-Qur’an Surat Az-Zaariyat ayat 24-30 dikisahkan sebagimana Nabi Ibrahim menerima kedatangan seorang tamu yang sama sekali belum dikenalnya. Walaupun demikian, beliau merasa wajib untuk menghormati dan melayaninya dengan baik dan kemudian bahwa tamu yang datang itu adalah malaikat yang sengaja Allah kepada Nabi Ibrahim dengan menyamar sebagai manusia.
Selain itu banyak juga riwayat-riwayat yang menerangkan tentang kewajiban-kewajiban menghormati tamu ini. Diantaranya adalah sebagai berikut ini :
“Pada suatu malam Rasulullah kedatangan seorang tamu. Akan tetapi pada saat itu Rasulullah tidak mempunyai persediaan apa-apa kecuali hanya air minum saja. Karena tidak ingin mengecewakan tamunya, lalu beliau menawarkan kepada para sahabatnya, siapakah kiranya yang bersedia menjamu tamunya. Kemudian ada seorang sahabat Anshar yang menyatakan kesediannya dan membawa tamu tersebut. Pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, sahabat tadi bertanya kepada istrinya :
“masih adakah makanan untuk dihidangkan kepada tamu Rasulullah ini”?. Jawab sang istri :”Masih ada, tetapi makanan itu untuk persediaan anak kita”. Kalau begitu lekas kau tidurkan anak kita. Dan setelah itu hidangkan makanan yang ada itu kepada tamu Rasulullah dan letakkan pula satu piring kosong dihadapanku. Kemudian pada saat akan meletakkan kedua piring  itu, si istri memadamkan lampu dengan alas an kehabisan minyak, padahal tujuan sebenarnya adalah agar tamu Rasulullah tadi tidak mengetahui, bahwa piring si tuan rumah dalam keadaan kosong dan hanya berpura-pura maka untuk menyenangkan hati tamunya”.

Demikian tunggi  akhlaq para sahabat di zaman Rasulullah dahulu, hingga rela berbuat seperti yang diceritakan di atas tadi.
Hal ini berbeda sekali dengan yang terjadi dikalangan masyarakat dewasa ini. Kalau tamu yang datang berkedudukan tinggi, kaya, pengaruh dan sebagainya. Maka akan dihormati dan diberi hidangan yang mewah dan berlebih-lebihan, sebaliknya kalau tamu yang datang itu dari kalangan orang miskin dan tidak terpandang, maka disambut dan dijamu ala kadarnya saja. Padahal menurut ajaran islam, menghormati memulyakan tamu itu tidak boleh pandang bulu.
Kembali kepada soal keimanan, menurut Ibnu Tamiah, Iman itu mempunyai (3) macam tingkatan, yaitu :
1.                   pertama, Iman yang berdasarkan pada pengetahuan semata tetapi belum meresap kedalam hati.
2.                   Kedua, Iman yang sudah meresap kedalam hati dan sudah berpengaruh kepada kehidupan sehari-hari.
3.                   Ketiga, sudah dapat menghayati dan merasakan lezatnya Iman sebagaimana orang yang kelaparan merasakan makanan.
Mengenal lezatnya Iman ini baru dapat dirasakan setelah seseorang melakukan tiga hal, sebagaimana yang tersebut dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini, yang artinya :
“Barangsiapa yang terdapat padanya tiga perkara, maka dia akan merasakan kemanisan (kelezatan) Iman. (ketiga perkara itu adalah) :
1.                   Mencintai Allah dan Rasulul-Nya, melebihi cintanya dari yang lain.
2.                   Mencintai manusia karena cintanya kepada Allah.
3.                   Benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya dilemparkan ke dalam api”.

Menurut Rasyyid Ridho. Jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah itu ada beberapa macam, diantaranya : Memperbanyak Dzikir (ingat) kepada-Nya, menyelami lautan hikmah yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an, membiasakan diri melaksanakan syari’ah dengan baik, merenungkan rahasi-rahasia dan hikmah alam raya yang telah diciptakan-Nya, dan ketika melihat sesuatu yang indah, yang baik atau menawan maka timbul perasaan  bahwa semuanya itu merupakan karunia dari Allah.
Akhirnya sehubungan dengan warid ini akan kami kemukakan pernyataan dari syeikh Ibnu Atho’ berikut ini, yang artinya :
“warid itu datang dari AllahYang Maha Perkasa. Oleh karena itu tidak ada sesuatupun yang dapat melawannya, melainkan warid itu (sendiri) yang akan membinasakannya, sebagaimana halnya (firman Allah yang artinya) : Sebenarnya Kami melontarkan yang (haq) kepada yang (bathil) lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta nerta yang bathil itu menjadi lenyap”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar