Rahmat Mulyadi

Rahmat Mulyadi

Kamis, 18 April 2013

229. DENGAN MENGINGAT ALLAH SESEORANG DAPAT MERASAKAN KELEZATAN DAN KENIKMATAN DALAM HIDUP



229. DENGAN MENGINGAT ALLAH SESEORANG DAPAT MERASAKAN KELEZATAN DAN KENIKMATAN DALAM HIDUP
Waqad auhallaahu ilaa dawuuda ‘alaihissalamu : qul lishsiddiqiina bii falyafrahuu wabidzikrii falyatana’amuu.
Artinya : Dan sungguh Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Daud a.s.“Katakanlah (hai Daud) kepada orang-orang yang banyak kebenarannya (Ashsiddiqiin) :”Dengan Aku, maka hendaklah mereka gembira, dan dengan ingat kepadaku, maka hendaklah mereka merasakan nikmat”.
Kelezatan dan kenikmatan adalah sesuatu yang sering di cari manusia”. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Padahal yang demikian itu “sangat mudah” untuk “didapat” karena hanya dengan “mengingat Allah” sebagaimana yang telah diwahyukan-Nya kepada “Nabi Daud” maka seseorang akan dapat merasakan kelezatan dan kenikmatan dalam hidupnya.
Pada akhir tulisannya ini. Syekh Ibnu Atho’ilah berdo’a kepada Allah dengan do’a seperti berikut ini:
“Semoga Allah Yang Maha Tinggi menjadikan kesenangan (kegembiraan) kami dan kamu semua dengan-Nya serta mendapat keridhoan dari pada-Nya. Dan semoga Allah menjadikan kami dari golongan orang-orang yang mengerti segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Semoga Allah tidak menjadikan kami dari golongan orang-orang yang lalai. Dan semoga Allah menjadikan kami pada jalan orang-orang “muttaqiin”. Dengan karunia dan kemurahan Allah subhanahu wata’alaa. Amiin.
Selain itu beliau juga berharap agar senantiasa mendapatkan “hidayah” dan “rahmat-Nya” dalam mengarungi gelombang kehidupan ini. Karena tanpa adanya rahmat dari Allah, maka kehidupan akan terasa “kering kerontang” tiada artinya. Demikian juga dengan kehidupan “akhirat” yang apabila tidak dikarunia  Allah rahmat, maka orang yang demikian ini akan merasakan penderitaan yang tiada taranya.
Adapun mengenai syarat-syarat untuk mendapatkan rahmat itu adalah sebagaimana yang tersebut dalam Hadits Riwayat Dailami yang bersumber dari Ibnu Abbas berikut ini, yang artinya :
“Allah merahmati orang yang dapat menjaga tutur katanya, memahami zaman (dimana dia hidup), dan “Istiqomah” dalam hidupnya”.
1.       Menjaga tutur kata (Hafidho Lisaanuhu)
Yakni dapat mengendalikan diri dari mengucapkan kata-kata yang tidak perlu diucapkan, seperti kata-kata mengandung rahasia, yang dapat menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain, yang dapat menimbulkan fitnah, yang menimbulkan keresahan masyarakat dan sebagainya.
Sehubungan dengan hal ini para ahli “hikmah” mengatakan :
“Tiap-tiap perkataan itu ada tempat tersendiri yang layak (untuk mengucapkannya) dan tiap-tiap tempat mempunyai kata-kata tersendiri (untuk diucapkannya)”.
2.       Memahami zaman (‘Arofa Zamanuhu)
Yakni menyeleksi dan melihat dengan teliti segala kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di zaman dia hidup itu. Jika sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran agama, maka akan dianut, tetapi jika bertentangan, maka harus ditolak dengan tegas dan dijauhi sejauh-jauhnya.
Sehubungan dengan hal ini Rasulullah S.A.W. bersabda sebagaimana yang tersebut dalam Hadits Riwayat Turmudzi berikut ini, yang artinya :
“Janganlah ada di antara kamu menjadi manusia yang ikut-ikutan saja. Ia mengatakan : Aku ikut orang banyak. Jika mereka baik, aku juga demikian. Dan jika mereka rusak, aku ikut rusak. Tetapi tanamkan (prinsip) dalam jiwamu : jika orang sudah rusak, hendaklah kamu jauhi kerusakan itu”.
3.       Istiqomah dalam hidup (Wastaqomat Toriqotuhu)
Yakni punya pendirian yang tegas, tidak mudah diombang ambing oleh keadaan, dan tidak pula mudah terpengaruh oleh bujukan atau rayuan-rayuan apapun, sehingga dalam keadaan yang bagaimanapun ia senantiasa berpegang teguh pada “keimanan” dan “ketaqwaannya”.
Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Fush-Shilat ayat 30, yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata : Tuhan kami Allah, kemudian mereka “Istiqomah” (dalam hidupnya) maka akan turun malaikat yang mengatakan : Bahwa kamu jangan takut dan sedih, gembiralah dengan syurga yang dijanjikan untukmu”.

Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang ingin mendapatkan rahmat dari Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar